kebenaran itu begitu dekat, tetapi kita menjauhi dan membencinya…
karena kebenaran itu tak nyaman dan bertolak dengan kecenderungan manusia…
hawa nafsu…hawa nafsu itu konon iblis…
sedang yang tak bernafsu ia malaikat…
manusia dilengkapi hawa nafsu, jika dapat mengendalikan…
ia lebih dari malaikat dan disebut-sebut selalu oleh Allah disisiNya
sebagai hamba yang terbaik…
tetapi jika ia menuruti hawa nafsu…
ia tak lebih baik dari seekor hewan ternak…
Setiap manusia didunia ini melakukan segala macam perbuatan itu pasti merasa benar. Tidak ada manusia itu yang melakukan segala macam perbuatan merasa tidak benar. Tetapi apakah perasaan setiap manusia yang mengaku bahwa dia melakukan perbuatan itu telah benar seluruhnya atau tidak?
Yang terpenting bukan perasaan benar atau sekedar merasa bahwa aku telah berbuat benar. Yang terpenting adalah ukuran apa atau dasar apa yang menjadikan manusia itu melakukan perbuatan sehingga dia merasa benar.
Secara garis besar ukuran kebenaran itu sendiri hanya ada dua:
1. Mengukur kebenaran dengan wahyu (petunjuk) Allah.
2. Mengukur kebenaran dengan kesesatan hawa nafsu.
Seiring dengan perjalanan hidup manusia dari lahir sampai ia menjemput kematian, kebanyakan manusia itu mengukur kebenaran dengan hawa nafsu. Bukan dengan dengan ukuran petunjuk yang lurus yaitu wahyu Allah. Aktsaarunnaas laa ya’lamuun (kebanyakan manusia itu tidak mengetahui), Aktsaarunnaas laa yu’minuun (kebanyakan manusia itu tidak beriman), Aktsaarunnaas laa yaskuruun (kebanyakan manusia itu tidak bersyukur), Aktsaarukum lil haqqi kaarihuun (kebanyakan kebenaran itu kepada kebenaran membenci).
Kata Nabi Yusuf as : “wamaa ubariunnafsi laammaartun bisyuu’i illaa maa rahima rabbii“, yang artinya “aku tidak membebaskan diriku bersih dari kesalahan, karena diriku selalu memerintahkan (cenderung) kepada kejahatan. Kecuali apa-apa yang diberi rahmat oleh Tuhanku (Allah).”
eh… ada lanjutannya prends, kapan2 akhireza sambung^^ saatnya mandi sore…
ada tradisi yang baik dikeluarga saya. bapak dan ibu mempunyai komunitas kajian sendiri. ikut ormas islam berlambang matahari. jauh sebelumnya mengikut ormas islam yang fanatik, berlambang bumi bertali. sejak berpindah ke solo beliau berdua pindah ke ormas lain. tentu berpindahnya tidak secara spontan langsung ganti ormas, atau pengin sesuatu hal yang baru. tentu tidak seperti itu. dan tidak juga seperti seorang politikus kutu loncat, berpindah dari satu partai ke partai lain untuk hal yang lebih menjanjikan, apalagi kalau bukan materi dunia. kalaupun ada yang mengatakan untuk kepentingan bangsa, negara, rakyat, apapun lah namanya. saya tidak yakin sama sekali. kedok, demikian saya melabelinya. mereka ingin dipilih rakyat. sedang rakyat tak tahu mengapa ia harus dipilih. maka keluarlah sumpah, janji, kontrak politik, sebar sembako, bakti sosial, pengobatan gratis, hadiah, jilbab, bahkan ada juga yang ‘menyumbang’ Quran ‘cuma-cuma’. (hehe.. karena dahulu saya juga pernah berpartisipasi seperti itu, demi partai saudara! duuh… naifnya). beliau berdua memakai proses perbandingan kedua ormas islam tersebut.
aduh ini tentang diri pribadi kok. mau nulis gimana, nggak juga gimana. tapi tetep nulis aja ah. hehe… dahulu kala semenjak masuk SMA suka ikut-ikut kajian. meski ga’ mudeng yang penting berangkat, dan meski diliputi niatan pergi dari rumah sesaat meninggalkan pekerjaan harian (nyapu, nge-pel, cuci piring, hehe). setelah SMA, masuk perkuliahan tahun pertama langsung disuruh ikut kajian umum, nah baru setelah itu ikut halaqoh terdiri 10 orang dan ada murabbi’nya.
Komentar Terakhir