hubungan partai dan dakwah (1)

“dua sisi mata uang yang ga’ bisa lepas”, kata eks ustadz ane

koin-uangaduh ini tentang diri pribadi kok. mau nulis gimana, nggak juga gimana. tapi tetep nulis aja ah. hehe… dahulu kala semenjak masuk SMA suka ikut-ikut kajian. meski ga’ mudeng yang penting berangkat, dan meski diliputi niatan pergi dari rumah sesaat meninggalkan pekerjaan harian (nyapu, nge-pel, cuci piring, hehe). setelah SMA, masuk perkuliahan tahun pertama langsung disuruh ikut kajian umum,  nah baru setelah itu ikut halaqoh terdiri 10 orang dan ada murabbi’nya.

dua tahun materi awal tentang pola-pola dasar ke-islaman, makna syahadat, asholah dakwah, wasilah dakwah, dan seterusnya. pokoknya seperti di materi-materi ajaran halaqoh lah. sampai pada waktunya, disuruh ikut kegitan partai ada baksos, kerja bantu peduli gempa, mukhayam,  dan kegiatan-kegiatan lainnya. sebuah suara hati terbesit dan terpaksa terlontar pertanyaan kepada sang murabbi’ yang hari ini duduk manis jadi anggota legislatif.

  • AR: ustadz apakah saya wajib ikut kegiatan partai, sedang ane lebih suka kegiatan dakwahnya saja. nah, kalau ane ikut kegiatan dakwah saja gimana nih?
  • UST : gini akh, antum tahu uang koin. disitu ada 2 mata sisi. nah, kalau antum beli barang pake uang yang cuma ada 1 mata sisi. bisa buat beli nggak?
  • AR : yah ga’ bisa lah tadz!
  • UST : nah itu dia, 2 sisi mata uang tadi sama halnya 2 sisi antara dakwah dan partai, saling menguatkan dan saling memberikan manfa’at.
  • AR : ouh, gitu ya tadz?! tapi ane merasa kurang sreg kalau dakwah harus disandingkan dengan kepartaian. ada sesuatu yang mengganjal.
  • UST : gini aja akh, antum kelihatannya futur, kurang asupan dakwah. antum perbanyak amaliyat lagi.

kebetulan ustadz ada kegiatan di luar jadi langsung pamit pergi. jawaban itu kurang memuaskan hasrat dan rasa ingin tahu: bener ga’ sih adanya dakwah harus diiringi dengan partai atau sebaliknya?

istikharah. shalat dua raka’at itu tidak hanya meminta jodoh yang terbaik pilihan Allah, tapi juga meminta hal-hal yang terbaik lainnya. apalagi kalau masalah syubhat aqidah. menyangkut ideologi yang dibawa sampai mati.

alhamdulillah, jawaban yang dibutuhkan malah datang bukan dari murabbi’ yang tadinya mau ditanyai, lantaran pekewuh ga’ jadi tanya. eh malah tanya sama teman se-SMP dulu. dan jawaban itupun menjadi pegangan hidup sampai saat ini, hati dan pikiran ini terasa tercerahkan. bukan jawaban pragmatis, atau doktrin hegemoni barat atas kebodohan ummat.

  • TMN : akh reza, persoalannya Allah itu cuma memberikan dua pilihan. islam atau kafir. selain islam ya kekafiran, begitu juga sebaliknya. ajaran Allah dan Rasul-Nya bermakna islam, sedang ajaran diluar itu bermakna kekafiran. jadi wajar dan pantas antum bersikap dalam hati nurani, bagaimana mungkin sebuah hal bermakna kekafiran atau kebathilan di campur dengan hal yang bermakna islam atau kebenaran. adapun yang antum tanyakan perihal partai dengan dakwah, yang hari kita melihat bahwa partai mengandung makna kekafiran. maka mana mungkin dakwah ini di kotori dengan kekafiran, yang ada malah dakwah ini jauh berseberangan dan bermusuhan dengan partai yang bersumber dari kekafiran.
  • AR : masyaAllah,  antum kok bisa bilang partai yang berdasar dan bervisi syari’at islam bersumber kepada kekafiran.

  • TMN : apapun yang ditulis dalam ad-art partai manapun baik yang bervisi misi islam atau yang tidak, kegiatannya islami atau tidak. kalau sistemnya masih mengakar kuat didalamnya demokrasi, itu bermakna kekafiran.
  • AR : loh?! apa hubungan demokrasi dengan kekafiran?! apa karena berbeda dengan islam. padahal sumber-sumber kebaikan pada demokrasi juga ada pada sumber-sumber kebaikan islam? atau hanya sebatas dogma dari ajaran Allah ini yang mengharuskan kita mengkafirkan ajaran yang lain?! dimana letak toleransi dien ini terhadap agama dan paham lainnya yang juga terdapat kebaikan?!
  • TMN : pertama, antum bilang masalah kekafiran. adanya islam dan kekafiran bersumber dari ajaran Allah. islam itu sistem yang berisi segala hal yang mengatur menyangkut manusia. selain islam itu kafir. kedua, adanya kebaikan dan kejahatan datangnya juga bersumber dari Allah. dan Allah memerintahkan kebaikan didalam islam dan melarang kejahatan juga didalam islam. jadi semua perintah dan larangan untuk kebaikan ummat manusia. adapun demokrasi juga ada sumber kebaikan, berarti tidak semua didalam demokrasi itu baik. adapun adanya sedikit kebaikan yang sangat sedikit manfaatnya itupun meniru pola sumber sistem kebaikan yang sudah ada, yaitu islam. jadi mengapa harus mengikuti sistem yang mempunyai sedikit kebaikan dan bahkan sistem yang hanya mengikuti sumber kebaikan? mengapa bukan sumber kebaikan itu sendiri yang harus kita ikuti? ketiga, keimanan itu diyakini pada hati nurani. dilakukan dengan amal perbuatan. dan dipikirkan bagi akal sehat, dengan tidak bertendensi pada nafsu dan keserakahan. dan hati, akal, dan tubuh  yang sehat tertuju pada taatnya pada perintah yang Maha Memerintah. silakan mau dikatakan dogma, doktrin, atau apa sajalah yang penting rumusannya itu. sedang letak dien ini terhadap ajaran, paham, atau sistem lainnya adalah mempersilakan dan tidak memaksakannya. dan tentu saja sekali lagi itu diluar islam dan bersifat kekafiran. adapun kalau memakai ajaran, paham, keyakinan, atau sistem yang tidak bersumber pada islam. tetapi menggunakan, bersembunyi dibalik islam, itu yang perlu diluruskan, bahkan dengan pedang sekalipun.
  • AR : lalu solusi apa yang bisa diharapkan agar umat manusia ini berada alam ketenangan, kedamaian, keselamatan, keadilan, kesejahteraan, persatuan, kebaikan?
  • TMN : islam berdasar qur’an dan sunnah, sesuai ajaran Allah dan RasulNya.
  • AR : dengan berpartai? partainya Allah dan RasulNya?
  • TMN : dengan dakwah, hijrah, dan jihad RasulNya memberi contoh.
  • AR : well done masyaAllah, ane akan pelajari dilain kesempatan. jazakumullah kher.
  • TMN : wa iyyakum :)

hehe baru episode satu akhi reza…

11 Tanggapan ke “hubungan partai dan dakwah (1)”


  1. 1 brohabib 18 April 2009 pada 8:33 am

    seru juga kalo gaya tulisan akhi reza bisa serius seperti ini… semoga saja bisa konsisten… (sebetah apa akhi reza nulis dengan gaya seperti ini?). saya tunggu episode duanya…

  2. 2 Andi 18 April 2009 pada 9:07 am

    hmmmm….
    kok pinter temennya daripada ustadnya ya??? :-D

    ———–
    lah temennya ustadznya ustadz, hehe jadi bingung tho :P

  3. 3 papadefung 20 April 2009 pada 4:09 pm

    subhanallah… tulisan ini mirip banget dengan pengalaman teman saya di Bandung, dia mengikuti halaqoh demi halaqoh atau apapun istilahnya. Memang hati tidak dapat dibohongi, perasaan ketidak puasan selalu saja ada dalam pikiran teman saya tadi. Ko kenapa jadi begini? kok larinya malah ke partai? Trimakasih akhi reza…. semoga tulisannya jadi renungan… menyadarkan yang belum sadar……..

    ———–
    horeee, mas anwar ngasih komeeen, maturnuwun…

  4. 4 kastoto 27 Juni 2009 pada 7:29 am

    jazakumullah khoiran katsiran..
    ana sudah bs memahami apa yang antum rasakan..ana pun dulu juga bgitu..ana langsung tanya kepada ustadz yang berkompeten dalam hal syariah..dan sudah bisa dipercaya ketsiqohannya, baik di Indonesia, maupun internasional, sebut saja ustadz DR. Muinuddinillah Basri, M.A, beliau seorang doktoral di universitas Riyadh, dan pernah talaqi (halaqah) dengan syeikh Abdul Aziz ibn Baz (mufti Saudi)

    ana sudah tanyakan langsung ke beliau dan ana juga sudah baca beberapa tulisan beliau di beberapa media mengenai hukum demokrasi dan keterlibatan dalam partai..insya Allah, akan ana postingkan di blog ana..atau kalo antum gak sempat menunggu tanyakan langsung kepada beliau.

    apapun pendapat antum, semoga dapat mempersatukan kita dalam al ukhuwah al islamiyah

  5. 5 Luthfi 7 Juli 2009 pada 1:15 pm

    eh, iki profesor akri smulsa honggowongso yo? ;-)

  6. 6 aulia 14 Januari 2010 pada 2:59 pm

    Dalam beribadah harus lurus niat nya. Kalau tidak lurus bakalan sia sia tuh ibadah. Dakwah termasuk ibadah yang paling tinggi dalam islam. kalau penggen ibadah dengan jalan berdakwah ya harus diluruskan niat nya termasuk niat ingin mencari kekuasaan.

  7. 8 enoz 12 Februari 2010 pada 7:36 pm

    terima kasih atas artikel yang bagus ini

  8. 10 Muhammad Baiquni 26 Oktober 2011 pada 5:08 pm

    jalan dakwah itu luas akhi saya rasa, yang penting adalah dakwah, sedangkan partai atau tidak itu hanya jalan.

    • 11 akhireza 27 Oktober 2011 pada 9:21 am

      tentu seluas apapun ada batas yg tidak boleh diterjang, karena segalanya berawal dari niat ikhlas dan cara mengerjakan yg benar sesuai tuntunan Allah dan RasulNya. Kurang atau melebihi itu tentu menjadi hal yg tidak diridhai. Sedang partai tidak dlm koridor tuntunan tsb.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s





Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.