Mengapa Dia Tidak Memakai Jilbab?

Untuk kita renungkan…Artikel ini bercerita tentang percakapan antara dua orang muslimah.

“Aku sangat lelah.”

“Lelah kenapa?”

“Semua orang menghakimiku.”

“Siapa yang menghakimimu?”

“Wanita itu, setiap kali aku duduk dengannya, dia selalu menyuruhku pakai jilbab.” “Oh, jilbab dan musik! Induk segala topik!” “Yeah! Aku dengerin musik dan ga pake jilbab…haha!”

“Mungkin dia hanya ingin menasihatimu.”

“Aku ga perlu nasihatnya. Aku tahu agamaku. Tidak bisakah ia memikirkan urusannya sendiri?”

“Mungkin kamu salah paham. Ia hanya ingin berbuat baik padamu.”

“Jangan campuri urusanku, itu baru kebaikan…”

“Tapi itu tugasnya untuk mendorongmu melakukan kebaikan.”

“Percayalah. Itu bukan dorongan. Btw, apa yang kamu maksud dengan ‘kebaikan’?”

“Well, pakai jilbab, aku rasa itu baik.”

“Kata siapa?”

“Bukankah itu ada dalam Al-Qur’an?”

“Iya sih. Dia mengutip beberapa ayat.”

“Dia mengutip Surat An-Nur, dan ayat lain dalam Al-Qur’an.”

“Iya. Tapi itu kan bukan dosa besar. Membantu sesama dan shalat kan lebih utama.”

“Benar. Tapi sesuatu yang besar dimulai dengan hal-hal kecil.”

“Poin yang bagus, tapi apa yang kamu pakai tidak terlalu penting. Yang penting hati kita baik.”

“Apa yang kamu pakai tidak terlalu penting?”

“Yup.”

“Lalu, mengapa kamu menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk berdandan?”

“Apa maksudmu?”

“Kamu menghabiskan uang untuk kosmetik, belum lagi untuk merawat rambut, dan diet.”

“So?”

“Jadi, penampilan PENTING bagimu.”

“Bukan begitu. Maksudku, pakai jilbab bukanlah perkara penting dalam agama ini.”

“Jika ngga penting, lalu mengapa disebutkan dalam Al-Qur’an?

“Kamu tahu, aku ngga bisa mengikuti semua yang ada dalam Al-Qur’an.”

“Apakah kamu kira Allah memberikan perintah, kemudian kamu langgar, dan itu ngga’ masalah?”

“Ya. Tuhan kan Maha Pengampun…”

“Tuhan mengampuni orang yang bertaubat dan tidak mengulangi kesalahannya.”

“Kata siapa?”

“Kata kitab yang sama yang juga menyuruhmu untuk memakai jilbab.”

“Tapi aku ngga suka jilbab, ia membatasi kebebasanku”

“Apakah lotions, lipstick, mascara, dan kosmetik lainnya membuatmu bebas!? Terus, apa yang kau maksud dengan kebebasan?”

“Kebebasan adalah melakukan apapun yang kamu mau.”

“Bukan. Kebebasan adalah melakukan hal-hal yang benar, bukannya melakukan apapun yang kita inginkan.”

“Ingat! Aku telah melihat banyak wanita yang tidak memakai jilbab dan mereka orang yang baik, sebaliknya aku juga melihat banyak wanita yang pakai jilbab, tapi tingkah laku mereka buruk.”

“So what? Jika ada orang yang baik padamu tapi ia alkoholik. Apakah kita semua harus jadi alkoholik? Kamu telah membuat pernyataan bodoh.”

“Aku ngga ingin jadi ekstrimis atau seorang fanatik. Aku menikmati diriku tanpa jilbab.”

“Berarti kamu fanatik sekuler. Ekstrimis dalam melanggar aturan Allah.”

“Jangan begitu. Jika aku pakai jilbab, lalu siapa yang mau menikah denganku?”

“Apakah semua orang yang pakai jilbab tidak pernah menikah?”

“OK! Bagaimana jika aku menikah lalu suamiku tidak menyukai aku pakai jilbab, dan menyuruhku melepaskannya?”

“Bagaimana jika suamimu mengajakmu merampok bank?”

“Itu ngga relevan, merampok adalah perbuatan kriminal.”

“Melanggar aturan Allah bukan perbuatan kriminal?”

“OK, lalu siapa yang akan menerimaku kerja?”

“Perusahaan yang mampu menghargai orang lain.”

“Mengapa kamu mereduksi nilai agama hanya pada sepotong pakaian saja?”

“Mengapa kamu mereduksi nilai kewanitaan hanya pada high heel dan warna lipstik saja?”

“Kamu belum menjawab pertanyaanku.”

“Ya. Hijab tidak sekedar sepotong pakaian. Ini adalah tentang mematuhi aturan Allah di lingkungan yang sulit. Ini adalah tentang keberanian, keyakinan dalam beramal, dan nilai kewanitaan yang sejati. Tapi baju lengan pendekmu, celana ketat…”

“Itu disebut ‘fashion’, apakah kamu tinggal di gua atau dimana? Dan perlu kamu ketahui, jilbab ditemukan oleh lelaki yang ingin mengontrol wanita.”

“Benarkah? Aku ga tahu lelaki bisa mengontrol wanita dengan hijab.”

“Ya. Itulah maksudku.”

“Bagaimana tentang wanita yang menentang suaminya, untuk memakai hijab? Dan wanita di Prancis yang dipaksa oleh suaminya untuk melepas hijab? Apa yang akan kamu katakan tentang hal itu?”

“Well, itu beda.”

“Apa bedanya? Wanita yang ingin memakai jilbab, bukankah ia juga wanita?”

“Benar, tapi…”

“Tapi fashion yang dirancang dan dipromosikan oleh sebagian besar perusahaan lelaki, membuatmu bebas? Lelaki tersebut tidak punya kontrol saat mengeksploitir wanita dan memanfaatkan mereka sebagai komoditi?! Kamu bercanda!”

“Tunggu, biarkan aku menyelesaikan perkataanku, aku tadi mengatakan…”

“Mengatakan apa? Kamu kira lelaki mengontrol wanita dengan jilbab?”

“Ya.”

“Bagaimana caranya?”

“Dengan memerintahkan wanita tentang apa yang mesti dipakai dan bagaimana cara memakainya”

“Bukankah TV, majalah, dan film mengarahkanmu apa yang mesti kamu pakai, dan bagaimana agar tampil “menarik”?

“Tentu saja, itu fashion.”

“Bukankah itu kontrol? Memaksamu untuk memakai apa yang mereka inginkan untuk kau pakai?”

[diam]

“Tidak hanya mengontrolmu, tapi juga mengontrol pasar.”

“Apa maksudmu?”

“Maksudku, kamu diarahkan untuk nampak langsing sebagaimana halnya wanita di cover majalah, oleh pria yang merancang dan menjual produk di majalah tersebut.”

“Aku ngga paham. Apa yang harus dilakukan oleh jilbab dengan produk tersebut?”

“Banyak yang bisa dilakukannya berkaitan dengan produk tersebut. Tidakkah kamu tahu? Jilbab adalah ancaman bagi konsumerisme, bagi wanita yang menghabiskan jutaan dollar agar nampak langsing dan hidup dengan standar fashion yang didesain oleh pria…dan kemudian Islam membuang semua hal yang ngga masuk akal tadi dan fokus pada jiwamu, bukan pada penampilanmu, dan untuk tidak terlalu khawatir dengan apa yang dipikirkan pria tentang penampilanmu.”

“Bukankah jilbab juga sebuah produk?”

“Ya. Ia adalah produk yang membuatmu terbebas dari dominasi pria soal apa yang harus kamu pakai.”

“Jangan menggurui aku lagi! AKU NGGA AKAN PAKAI JILBAB! Itu kuno dan sangat tidak cocok dengan lingkungan di sini…Selain itu, aku juga baru 20 tahun dan terlalu muda untuk memakai jilbab!”

“OK. Katakan itu pada Tuhanmu, ketika kamu menghadap-Nya di Hari Pengadilan!”

“OK!”

“OK!”

[diam]

“Diamlah dan aku ngga ingin mendengar lagi tentang jilbab, hijab, atau apalah namanya!”

[diam]

Dia menghadap cermin, lelah berdebat dengan hati nuraninya sendiri sepanjang waktu. Cukup sukses, dia membungkam suara di kepalanya, dengan kemenangan pendapat yang diterima oleh lingkungan sekitar—tapi menolak keyakinan. “Ya!”—pada rambut yang bergelombang—”Tidak!”—pada jilbab.”

Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.(Asy-Syams: 10) Subhanallah….!!!!

“Tetapi kamu memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Al A’la: 16-17)

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali Imran: 110)

Saya tahu bahwa sebagian besar wanita akan berargumen bahwa wanita yang memakai jilbab, sebagian dari mereka tidak memakainya dengan semestinya dan masih pakai make up atau apalah itu.

Karena mungkin mudah untuk pakai jilbab, tapi ada etika yang harus dipenuhi dalam pemakaiannya, sebagaimana hal lainnya dalam Islam. Satu hal yang seringkali menjadi alasan untuk tidak memakai jilbab adalah adanya anggapan miring terhadap pemakaian jilbab.

Katanya, biar tidak berjilbab, yang penting sudah memakai jilbab hati, yaitu berhati baik dan berakhlak terpuji. Daripada berjilbab tapi perilakunya buruk. Anggapan ini perlu diluruskan.

Jilbab hati sesungguhnya tidak ada, yang ada jilbab dipakai untuk menutup aurat. Biar hatinya baik kalau aurat terbuka, ia masih berdosa besar. Alangkah anggunnya bila wanita yang baik hatinya sekaligus berjilbab.

Kita akui, memang tidak sedikit wanita berjilbab tetapi masih berperilaku amoral. Tapi perlu diingat, bahwa jilbab bukan simbol, tapi identitas dan tuntutan agama.

Ada pun hati (qalbu) memang perlu dimanage lebih baik agar melahirkan perilaku terpuji, dan ini memerlukan waktu lama. Itu mungkin bukan argumen yang kuat. Tapi jika seseorang mulai memakai jilbab, maka ia harus memakainya dengan tujuan mencari ridha Allah.

Dan itu membutuhkan banyak pengorbanan di zaman sekarang ini. Saya ngga mengatakan bahwa saya lebih tahu dari pada Anda atau yang lain, tapi ini sekedar sesuatu yang ingin saya bagi, sebagai saudara seiman. Saya ngga punya hak untuk menghakimi orang lain,

“Oh…kamu salah!”

Tidak. Karena saya sendiri pun mungkin banyak kesalahan. Semoga Allah memudahkan urusan kita. Wallahu’alam.

(Thank’s for my corporate friend Ishakuniki to translate this article for good life indonesian moslemah.)

Kebenaran itu… (1)

kebenaran itu begitu dekat, tetapi kita menjauhi dan membencinya…
karena kebenaran itu tak nyaman dan bertolak dengan kecenderungan manusia…
hawa nafsu…

hawa nafsu itu konon iblis…
sedang yang tak bernafsu ia malaikat…
manusia dilengkapi hawa nafsu, jika dapat mengendalikan…
ia lebih dari malaikat dan disebut-sebut selalu oleh Allah disisiNya
sebagai hamba yang terbaik…
tetapi jika ia menuruti hawa nafsu…
ia tak lebih baik dari seekor hewan ternak…

Setiap manusia didunia ini melakukan segala macam perbuatan itu pasti merasa benar. Tidak ada manusia itu yang melakukan segala macam perbuatan merasa tidak benar. Tetapi apakah perasaan setiap manusia yang mengaku bahwa dia melakukan perbuatan itu telah benar seluruhnya atau tidak?

Yang terpenting bukan perasaan benar atau sekedar merasa bahwa aku telah berbuat benar. Yang terpenting adalah ukuran apa atau dasar apa yang menjadikan manusia itu melakukan perbuatan sehingga dia merasa benar.

Secara garis besar ukuran kebenaran itu sendiri hanya ada dua:
1. Mengukur kebenaran dengan wahyu (petunjuk) Allah.
2. Mengukur kebenaran dengan kesesatan hawa nafsu.

Seiring dengan perjalanan hidup manusia dari lahir sampai ia menjemput kematian, kebanyakan manusia itu mengukur kebenaran dengan hawa nafsu. Bukan dengan dengan ukuran petunjuk yang lurus yaitu wahyu Allah. Aktsaarunnaas laa ya’lamuun (kebanyakan manusia itu tidak mengetahui), Aktsaarunnaas laa yu’minuun (kebanyakan manusia itu tidak beriman), Aktsaarunnaas laa yaskuruun (kebanyakan manusia itu tidak bersyukur), Aktsaarukum lil haqqi kaarihuun (kebanyakan kebenaran itu kepada kebenaran membenci).

Kata Nabi Yusuf as : “wamaa ubariunnafsi laammaartun bisyuu’i illaa maa rahima rabbii“, yang artinya “aku tidak membebaskan diriku bersih dari kesalahan, karena diriku selalu memerintahkan (cenderung) kepada kejahatan. Kecuali apa-apa yang diberi rahmat oleh Tuhanku (Allah).”

eh… ada lanjutannya prends, kapan2 akhireza sambung^^ saatnya mandi sore…

hubungan partai dan dakwah (2)

mboten-tumutada tradisi yang baik dikeluarga saya. bapak dan ibu mempunyai komunitas kajian sendiri. ikut ormas islam berlambang matahari. jauh sebelumnya mengikut ormas islam yang fanatik, berlambang bumi bertali. sejak berpindah ke solo beliau berdua pindah ke ormas lain. tentu berpindahnya tidak secara spontan langsung ganti ormas, atau pengin sesuatu hal yang baru. tentu tidak seperti itu. dan tidak juga seperti seorang politikus kutu loncat, berpindah dari satu partai ke partai lain untuk hal yang lebih menjanjikan, apalagi kalau bukan materi dunia. kalaupun ada yang mengatakan untuk kepentingan bangsa, negara, rakyat, apapun lah namanya. saya tidak yakin sama sekali. kedok, demikian saya melabelinya. mereka ingin dipilih rakyat. sedang rakyat tak tahu mengapa ia harus dipilih. maka keluarlah sumpah, janji, kontrak politik, sebar sembako, bakti sosial, pengobatan gratis, hadiah, jilbab, bahkan ada juga yang ‘menyumbang’ Quran ‘cuma-cuma’. (hehe.. karena dahulu saya juga pernah berpartisipasi seperti itu, demi partai saudara! duuh… naifnya). beliau berdua memakai proses perbandingan kedua ormas islam tersebut.

kedua orang tua saya walaupun bapak mengenyam pendidikan tamat SMA, dan ibu hanya tamat SD. tetapi beliau berdua tahu, bahwa kebenaran Qur’an dan Sunnah merupakan hal terpenting bagi keberlangsungan hidup menuju kehidupan sebenarnya. adik remaja masjid yang gaul anak muda, dan dua adek kembar saya masih dibangku kelas 5 SD, beraktifitas di TPA sebagai guru magang. sedang saya pribadi sudah mau menginjak umur 25 tahun (eh belum nikah juga, rezekinya belum datang! saya menghibur diri), sebagai petualang halaqah. beberapa halaqah saya kurang sreg, meski saya mengagumi salah satunya menambat hati saya karena kesolidan, dan amalan harian yang terabsen dengan baik. tetapi sayangnya ada embel-embel demokrasi dan partai (sebenarnya jijik mengucapkannya! jadi ingat catatan aktivis komunis, yang selalu membanggakan partainya).

masing-masing jika pulang dari pengajian mendiskusikan ulang dengan seksama, apa yang telah disampaikan pembicara. tentu saja, karena materi yang dipahami kurang. perlu tambahan kitab-kitab rujukan yang otentik, tidak ternodai dengan lekangnya zaman. bukan buku-buku karangan anjing-anjing liberalis. merusak keotentikan dengan dalih pencerahan. pembodohan yang sangat bodoh, dan teruntuk ummat yang bodoh pula. keluarga paham akan hal itu, serta membencinya sangat.

ngambek, frustasi, debat kusir, debat sengit, diam-diaman, bahkan boikot makanan pernah terjadi jika tidak ada kesepahaman. meski demikian, keluarga selalu berpikir ulang. bukankah diskusi tujuan semula agar taat dalam beribadah dan mengabdi kepadaNya, kuu anfusakum wa ahlikum naara. jagalah dirimu dan keluarga kamu dari api neraka. sehingga hal-hal tersebut bisa terpecahkan dan didapat solusi, agar bentuk-bentuk yang kurang menguntungkan keluarga dapat diminimalisir.

keluarga sejak zaman pemerintahan orde baru mencintai partai berlambang ka’bah. bahkan pernah suatu saat bapak dipanggil koramil (komando rayon militer) untuk menghadap, atas tindakannya menulis di papan baliho dekat jalan utama desa dibawah gambar partai berlambang ka’bah itu dengan tulisan AZAS ISLAM. tentu saja hal demikian dianggap sebuah hal subversif pada masa pemerintahan orde baru. dan disuruh menurunkan papan baliho tersebut. bahkan untuk khutbah jumat saja dimonitoring, setiap teks khutbah harus diantrian dahulu ke koramil untuk diperiksa. kalau-kalu ada teks khutbah yang menggugat dan mengkritik pemerintahan. tetapi yang namanya kecintaan tentu saja tidak berhenti sampai disitu saja. setiap diturunkan paksa oleh koramil setempat, pagi harinya di pasang yang baru lagi. bertuliskan AZAS ISLAM. itulah kecintaan. bahkan saya mengagumi hal itu dan menganggapnya sebagai aksi kepahlawanan, meski hari ini saya menganggapnya salah. karena berbuat untuk partai. tetapi pada hari itu, itulah yang diketahui bahwa islam ya partai berlambang ka’bah. sedang turunan sekuler partainya bersimbol beringin. dan anak-anak komunis partainya bersimbol banteng.

reformasi bergulir, sosok putra kelahiran solo berdomisili jogja muncul. menggantikan rezim orde baru. ia membentuk partai turunan dari ormas islam. lambangnya pun sama, matahari. tetapi berazas sekuler pancasila. karena keluarga ikut ormas islam tersebut, maka otomatis warganya juga memilih partai turunannya itu. aksinya simpatik, memukau banyak masyarakat. ide perubahan yang sangat kental dengan profil yang mendirikannya, reformis. meskipun yang dahulu mendukung orde lama, ia juga mengaku reformis. yang mendukung orde baru pun tak kalah ketinggalan mainnya, ia juga mengaku reformis. hehe, dasar politik bush uk. partai berlambang matahari itupun berakhir dengan perolehan suara tak memuaskan. sehingga nggak mengusung nama capres.

seiring dengan waktu, proses ikut halaqah dengan ormas yang mengusung ide khilafah yang tak juga membuat saya mudeng sejak SMA didampingi oleh beberapa orang kakak kelas. beralihlah kepada ormas yang berhaluan partai. tetapi kenyamanan dengan halaqah kepartaian selama 2,5 tahun dengan model ping-pong antar murabbi (khusus saya mungkin, hehe), membuat pertanyaan kembali dihati kecil saya. benarkah islam dapat ditegakkan demikian? setiap mengajukan pertanyaan yang meragukan hati kepada murabbi, selalu dijawab,

“sebaiknya antum tabayyun dulu akh. baik kepada hati antum sendiri, ataupun orang yang lebih tahu tentang persoalan partai dan dakwah.”

dalam hati saya cuma bisa miris dan berkata

“ooo… wong edan, saya itu punya keraguan dalam hati ini tadz. masa harus kembali bertanya pada hati saya. dan disuruh mencarinya pada murabbi yang lebih tahu. lah, gunanya antum jadi murabbi itu apa kalau tidak ngasih bayyan -penjelasan yang jelas, mumet dewe aku.”

dirumah pun saya mendapat pertentangan keras. semangat yang menggebu menawarkan solusi etika dakwah dan partai di keluarga malah dapat tanggapan sinis.

“loh le! sama-sama partai meskipun partaiku bukan partai dakwah, yang penting kan ide dasarnya. berkeadilan, mensejahterakan, dan membawa amanat rakyat di parlemen. lah wong nantinya juga mereka berkoalisi dengan partai yang bukan dakwah.” kata bapak saya.

“wah ini penyakit, harus bilang apa yah?!” kata hati kecil saya.

meskipun ngotot-ngototan dengan keluarga, tetapi saya masih berpikir ulang. apa ini berbuah kebenaran yang haq, karena waktu itu saya juga ragu-ragu dengan apa yang saya perjuangkan. bahkan kata eks murabbi saya waktu itu pas ngisi kultum ramadhan dia ngomong:

“barang syubhat itu sebaiknya ditinggalkan. seperti seekor kambing yang sudah punya jatah lapangan rumput untuk makanannya. tapi kambing itu bermain ke tengah yang berbatasan dengan lapangan rumputnya orang lain. walhasil, kambing itu masuk ke lapangan orang lain dan memakan rumputnya. kalau sudah demikian, antum kalau makan kambing itu bisa jadi syubhat, dan tidak barokah memakannya.” (maturnuwun buat ustadz saya yang dahulu).

“tapi tadz, knapa kambingnya sekarang lebih senang makan dilapangannya orang lain yah?! knapa kambing yang sudah punya lapangan rumput hijau bernama ISLAM (berisi Quran dan Sunnah yang mengajarkan dakwah, hijrah, dan jihad), seneng ke tengah-tengah perbatasan dengan lapangan hijau DEMOKRASI atas dasar alasan/ hujjah memaksimalkan manfaat yang sedikit dari lapangan DEMOKRASI itu tadz?! sedang madharatnya luar biasa kenthir bagi kelangsungan dakwah”, (apa karena kita bukan kambing, sehingga lebih tahu mana yang ‘bermanfaat’ atau karena rumput tetangga lebih ‘MENJANJIKAN materi dunia’ daripada rumput sendiri?!)

“Astagfirullah, antum tabayyun dulu akh!” (busyeeet, tabayyun lageee… kan ustadz sendiri yang bilang, masa mau direvisi seh? hehe sory loh tadz, moga aja inget meski eks muridna yang dibalck list ngingetin. Eh inget nggak yah, kalau sudah duduk di kursi empuk. awas, kursinya panas lho tadz!).

akhirnya debat antar parpol berlambang matahari berhaluan sekuler dan parpol bernuansa halaqah dakwah tidak terjadi dikeluarga saya. meskipun masing-masing menjadi saksi di tps yang sama, dihari pencoblosan tahun 2004. satunya dapat 50 ribu ples makan, satunya cuma dapat ples makannya doank (+ surga katanya). owalaaah dasar demokrasi kampreeet…

eh lah sekarang ikut halaqah dimana akhireza? dan keluarga gimana? emm.. episode selanjutnya ajah yah.. ^^V

xxx, pornografi jepang, onani, sex bebas, dan remaja indonesia

sore refreshing ke warnet, ketemu adek-adek kelas dan para pengguna warnet lainnya yang rata-rata remaja. ketemu salah satu dari mereka yang duduk mojok sendirian, sedang asyik masyuk ndlongop memelototi layar komputernya. tapi, sesuatu yang janggal saya lihat dari tadi kasak kusuk pindah posisi duduk. helmnya diletakkan disamping tempat duduk. helmnya  yang berkaca memantulkan visualisasi gambar situs yang sedang dibukanya secara jelas. oalah, ternyata! mau pulang, iseng menghampirinya. sontak kaget, mak plengeh, tersenyum malu.  konsentrasi pada air mukanya,

“mas dicari Allah, disuruh balek kejalanNya.”

mak gleg dia ngelek idu, menelan ludah. abis itu saya ngeloyor pergi ke penunggu server, kebetulan juga teman. ngobrol sebentar,

“yang dibuka anak-anak itu apa bos?!” tanya saya selidik.

“biasa mas, konten jepang,” jawabnya.

“beasiswa? apa cari lowongan kerja?”

“porno mas dan situs sejenis lah. banyak yang cari konten itu, malah minta saya video-video downloadnya.” imbuhnya setengah berbisik.

“ou, warnet sini kasih fasilitas gitu?”

“terpaksa mas biar laku,” dia konsentrasi pada layar komputernya.

“bos, ga’ barokah, hidup bisa jadi susah. ga’ perlu layani seperti itu. kalo perlu matikan komputer user yang buka kaya gitu.

“assalamu’alaikum,”

“nggeh mas, wa’alaikumsalam.” jawabnya

duh rabbi, moga dapat hidayah dan jagalah hidayah itu dalam jiwaku. amien

tidak begitu mengherankan, kalau setiap pengguna internet di indonesia ini menurut data statistik termasuk peringkat ke-7 di dunia (selamat yah! selamat dengkulmu kwi! hehe). kata kakak saya Romi Satria Wahono (kakak dari hongkong?!),

  • Setiap detik, 3075,64 USD dibelanjakan untuk pornografi
  • Setiap detik, 28258 pengguna internet melihat situs pornografi
  • Setiap detik, 372 pengguna internet mengetikkan kata kunci yang berhubungan dengan pornografi di mesin pencari
  • Jumlah halaman situs pornografi di dunia saat ini mencapai 420 juta

data diatas itu belum diupdate loh, mungkin bisa jadi sudah berkurang (yang ga’ nikmatin gituan, halah! makin nambah banyak kalo gitu!).

lantas apa mereka yang membuka situs-situs sampah itu nggak terangsang? apa cuma diam, meneng anteng ora obah. pelarian yang paling sering adalah kebiasaan onani, yang katanya aman, self service. padahal haram hukumnya sehingga tidak boleh dilakukan dalam kondisi apapun menurut jumhur ulama. lebih parahnya berujung sex bebas. nah kalau sudah demikian, apa bedanya hewan dengan manusia? inilah potret remaja hebat indonesia.

  • pintar otak sehat hati, pintar dan berakhlaq mulia
  • bodoh otak sehat hati, bodoh tapi berakhlaq mulia
  • pintar otak rusak hati, pintar tapi berakhlaq bejat
  • bodoh otak rusak hati, sudah bodoh bejat pula

pintar dan sehat adalah bakat. dan bakat merupakan karunia, ia ada karena dilakukan dan dikerjakan terus menerus menjadi kebiasaan dan menjadi bakatlah ia.

bukan bisa atau tidak bisa, tapi mau atau tidak mau! silakan terserah

Mau gimana lagi yah, namanya juga hasrat, tabiat, nekat, dan keparat. orang sukanya yang mengumbar aurat yang sarat dengan nikmat nafsu bejat sesaat. jadinya sesat jauh dari nilai akhirat. akhirnya terlaknat sampai akhir hayat. tau gitu kok ga’ tobat-tobat? padahal udah terbit bukunya jalan tobat, biar pada selamat jangan lupa shalat. jangan melulu mandi jinabat. segeralah belajar fiqih munakahat, lalu pergi ke KUA setempat laksanakan akad agar mendapat manfa’at dan berkat dunia dan akhirat. kan enak tuh, sesuai dengan ayat agar dekat dengan malaikat jauh dari setan terlaknat. jangan lupa banyak shalawat agar hati sehat. dan perlu diingat kiamat sudah dekat. sepakat?! enak kan dapat nasehat dari ustat?! (kelihatan dibuat-buat :) halah)

jalantobat2setiap orang pernah berbuat alpa, salah, dan dosa. tetapi sebaik-baik orang berdosa, salah, dan alpa merekalah yang berjalan diatas jalan tobat. promosi kebaikan boleh kan? (sekalian beli bukunya lah :) )

hubungan partai dan dakwah (1)

“dua sisi mata uang yang ga’ bisa lepas”, kata eks ustadz ane

koin-uangaduh ini tentang diri pribadi kok. mau nulis gimana, nggak juga gimana. tapi tetep nulis aja ah. hehe… dahulu kala semenjak masuk SMA suka ikut-ikut kajian. meski ga’ mudeng yang penting berangkat, dan meski diliputi niatan pergi dari rumah sesaat meninggalkan pekerjaan harian (nyapu, nge-pel, cuci piring, hehe). setelah SMA, masuk perkuliahan tahun pertama langsung disuruh ikut kajian umum,  nah baru setelah itu ikut halaqoh terdiri 10 orang dan ada murabbi’nya.

dua tahun materi awal tentang pola-pola dasar ke-islaman, makna syahadat, asholah dakwah, wasilah dakwah, dan seterusnya. pokoknya seperti di materi-materi ajaran halaqoh lah. sampai pada waktunya, disuruh ikut kegitan partai ada baksos, kerja bantu peduli gempa, mukhayam,  dan kegiatan-kegiatan lainnya. sebuah suara hati terbesit dan terpaksa terlontar pertanyaan kepada sang murabbi’ yang hari ini duduk manis jadi anggota legislatif.

Lanjutkan membaca ‘hubungan partai dan dakwah (1)’